Lem Aibon, merek ini jadi populer karena Pemprov DKI Jakarta menganggarkan lem ini dengan anggaran sebesar Rp 82 miliar. Entah buat apa lem ini, mungkin buat merekatkan kembali hubungan cinta yang sudah lama kandas antara Dilan dan Milea.
loading...
Gak nyambung ya? Hahaha. Oke, kali ini kita serius, bila perlu duarius, atau tujuh juta rius.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta sempat memasukkan anggaran lem Aibon dalam rencana Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2020 senilai Rp 82 miliar. Bukan hanya itu saja, banyak lagi anggaran yang tidak masuk akal, misalnya yang baru-baru ini pengadaan anggaran pulpen seharga Rp 123 miliar, dan sebelumnya juga ada anggaran antivirus yang mencapai Rp 12 miliar dan juga dana untuk 5 orang influencer untuk promosikan pariwisata DKI Jakarta sebesar Rp 5 miliar dan banyak lagi yang lain yang mungkin tidak ketahuan. Sungguh terlalu.
loading...
Mendagri Tito Karnavian akan berbicara dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal ini. "Saya kan baru juga. Nanti saya komunikasikan dengan Pak gubernur. Saya sendiri kan baru. Bicara dengan Pak Anies dan Pak Prasetio (Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi, red), saya kan kenal baik dua-duanya," kata Tito.
Tito mengatakan, masih ada mekanisme internal di Pemprov DKI. Tito belum akan mengintervensi. "Kita lihat saja nanti. Kan masih ada mekanisme internal di sana. Ada inspektoratnya, ada kajian di DPRD-nya. Kita belum mengintervensi sampai ke sana dulu," kata Tito.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyebut rencana anggaran Rp 82 miliar untuk lem Aibon bukan salah ketik. Sebelumnya, ada orang (lupa namanya) yang mengatakan mungkin itu salah ketik. Entah mana yang benar. Anggaran itu merupakan anggaran sementara untuk kemudian diubah setelah mendapat rencana anggaran dari pihak sekolah. "Terbentur waktu (saat penganggaran), kemudian Sudin (pendidikan tingkat kota dan kabupaten) susun anggaran sementara dengan harapan, saat sekolah selesai susun anggaran sekolah, ada 17 ribu komponen sekolah yang tertampung di 23 rekening itu detail sekali. Saat sekolah sudah selesai detail. Kemudian komponen atau rekening yang sudah disusun Sudin nanti akan disesuaikan komponen yang sudah disusun sekolah," ucap Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Syaefuloh Hidayat kepada wartawan di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta.
Alasan klasik yang basi dan tidak ada yang mau percaya. Kalau sudah ketahuan, pasti katanya sementara. Kalau ketahuan, katanya salah ketik atau typo. Saat ketahuan, baru sibuk direvisi. Pertanyaan pentingnya, kalau tidak ketahuan gimana? Mungkin, ini mungkin lho ya, anggaran ini bakal berjalan mulus, layaknya mobil balap yang melaju di jalanan aspal berkualitas Formula 1.
Kalau duit itu punya mereka, lalu kita bikin kesilapan seperti yang sudah-sudah, apakah mereka akan maklum? Mungkin mereka akan teriak dan marah-marah.
Dan untuk Pak Tito, bila perlu, tak usah bicara dengan Anies, langsung saja to the point tanyakan ke Anies kenapa bisa tersorot begitu banyak anggaran tak jelas? Tanyakan juga, salah satu anggota TGUPP-nya adalah mantan pimpinan KPK, kenapa tidak bisa mencium bau busuk ini? Terus tanyakan juga, gubernur kerjanya apa, masa keanehan anggaran ini dikuliti oleh politisi PSI? Aneh, lho.
Gubernur dulu saja suka pelototi anggaran dan akan marah kalau sampai menemukan anggaran yang tidak jelas. Sekarang terbalik, yang terkejut adalah gubernurnya, ditanya wartawan pun jawabnya tidak memuaskan. Tak pernah terdengar dia marah dan ribut soal anggaran tak jelas ini. Bukan satu, tapi sudah beberapa kali nih terjadi.
Semoga Pak Tito menindak tegas kalau memang ada permainan di balik semua ini. Kuliti saja satu per satu kebobrokan ini kalau memang ada. Bersikap lembek tidak akan membuat jera. Ini sudah keterlaluan sih. Alasannya pun sangat tidak profesional, typo, salah ketik, hanya sementara, atau alasan klasik lainnya.
Mungkin habis ini, bakalan ada yang panas dingin. Semoga Anies bisa memberikan penjelasan yang logis dan masuk akal, jangan muter-muter yang malah bikin pusing seperti sebelumnya.